Bandara Sultan Thaha Jambi Lumpuh

GibelFm - Ratusan penumpang menumpuk di Bandara Sultan Thaha (Sutha) Jambi, Rabu (26/9). Penumpukan ini terjadi karena semua penerbangan dari dan ke bandara ini dibatalkan.
Pantauan Tribun pukul 20.30 kemarin, konsentrasi penumpang terjadi di sekitar pintu keberangkatan. Khususnya di depan loket maskapai Lion Air yang empat jadwal penerbangannya dibatalkan karena alasan cuaca.
Ratusan penumpang berdesakan di depan loket yang hanya berjarak sekitar 8 meter dari pintu masuk ini. Masing-masing berusaha saling mendahului untuk mengurus pembatalan penerbangan mereka.
Tak hanya di depan loket Lion Air. Ratusan calon penumpang juga berdesakan ruangan dalam, tepatnya di meja boarding. Urusannya sama, mengurus kepastian nasib penerbangan mereka.
Ali Muzakir, calon penumpang yang ditemui di depan loket Lion Air mengatakan seharusnya ia bertolak ke Jakarta pada pukul 14.10. Beberapa kali diumumkan delay atau penundaan terbang, hingga akhirnya disampaikan pengumuman cancel atau pembatalan terbang.
Pria yang bekerja sebagai dosen IAIN STS Jambi ini mengatakan pemberitahuan yang ia terima, pembatalan itu disebabkan factor cuaca. Kabut tebal membuat jarak pandang di sekitar bandara sangat terbatas.
"Kepastian batalnya pukul 18.30. Mau bagaimana lagi, bukan kesalahan maskapai juga. Ini kan faktor alam," ujarnya.
Ali Muzakir tidak sendiri. Bersama dua rekannya sesama dosen, ia berniat menghadiri sebuah kegiatan di Kementerian Agama di Jakarta yang akan dilaksanakan hari ini.
Menghadapi situasi ini, Ali dan dua rekannya memilih melakukan re-schedule atau penjadwalan terbang. Sekalipun besok (hari ini) juga tidak ada jaminan dari pihak maskapai, mereka bisa diberangkatkan.
Pukul 19.00, kembali diumumkan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT609 juga dibatalkan. Menurut jadwal, pesawat ini bertolak ke Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Jakarta, pukul 16.10.
Bayu, seorang penumpang yang tinggal di Muara Bulian, Batanghari, hanya bisa tertunduk lesu saat pengumuman itu terdengar. PNS yang bekerja di Inspektorat Kabupaten Batanghari ini kemudian bertolak meninggalkan bandara setelah mengurus pembatalan tiketnya.
"Yah kita maklum saja. Lain soal jika kesalahan teknis seperti kerusakan pesawat," ujar Bayu yang ke Jakarta untuk urusan dinas bersama rekannya, Akmal.
Komentar senada juga disampaikan Nurma. Perempuan paruh baya berlogat Batak ini mengatakan sudah menunggu sejak siang. Ia juga mengaku diberi nasi kotak oleh Lion Air karena telah menunggu lama.
Manager Lion Air Jambi, Mardanus, mengatakan belum bisa berkomentar banyak. Pasalnya ia sedang sibuk mengurus ratusan penumpang yang pemberangkatannya terpaksa dibatalkan.
"Tiga jawal penerbangan kami hari ini dibatalkan. Maaf ya, saya belum bisa komentar banyak," ujar Mardanus yang dikonfirmasi per telepon.

Manager Operasional Bandara Sutha, Alzog Pendra menyampaikan seluruh penerbangan kemarin terpaksa dibatalkan. Kemarin tidak ada aktivitas turun naik pesawat di bandara ini.
Alzog mengatakan, pada siang hari jarak pandang berubah-ubah, namun tetap tidak pernah lebih dari 1.700 meter. "Terlalu berisiko untuk penerbangan. Jadi semua penerbangan hari ini (kemarin) dibatalkan," ujarnya.
Ia mengatakan belum mengetahui bagaimana kebijakan dari pihak maskapai. Apakah maskapai mengembalikan uang tiket calon penumpang, atau hanya melakukan reschedule saja.
sumber : TribunJambi

Zumi Zola Ajak Anak Yatim Nonton Sirkus

RadioGibelFm – Bupati Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Zumi Zola terlihat semringah, Kamis (27/9) malam. Bersama istrinya Sherrin Tharia, tak henti-hentinya bupati muda itu menebar senyum lebar.
 Pasangan muda ini membaur ditengah penonton acara sirkus yang digelar di Lapangan Season Square. Zumi memang tengah menikmati hiburan besama 100 orang anak yatim yang ia datangkan dari dua panti asuhan di Kota Jambi.
 
“Senang lihat mereka tersenyum. Saya sudah bicara dengan beberapa anak. Mereka bilang baru pertama kali nonton sirkus,” ujar Zumi disela-sela acara nonton.
Putra mantan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin ini mengatakan, bersama istrinya sengaja meluangkan waktu, datang dari Muara Sabak. Nonton bersama anak-anak yatim ini baru dua hari lalu direncanakan.
 
Zumi mengatakan, undangan terhadap anak-anak panti asuhan ini bukan atas nama Bupati Tanjabtim. Melainkan sebagai kegiatan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) Provinsi Jambi. 
 
Komentar senada juga keluar dari mulut Sherrin. Wanita yang dinikahi Zumi pada Jumat, 16 Maret 2012 ini mengatakan nonton bersama anak yatim merupakan momen yang sangat berbahagia baginya.
 “Saya bahagia sekali melihat anak-anak ini tertawa lepas. Lihat tuh mereka melonjak-lonjak kesenangan. Bisa berbagi sangat menyenangkan,” ujar Sherrin.

kondisi Lala

GIBELFMJAMBI – Masih ingat dengan Lala dan Eci, dua anak Harimau Sumatera yang ditemukan di Desa Ladang Panjang, Kecamatan Sungai Gelam, Muaro Jambi? Eci sudah mati, namun anak harimau satunya yang bernama Lala, hingga saat ini masih menjalani perawatan di Kebun Binatang Taman Rimba, Jambi. 
Menurut drh Meilina Waty, dokter yang merawatnya, kondisi Lala sudah semakin membaik.
Bahkan, kata Meilina, berat badan Lala sudah bertambah 1 kg. “Lala semakin aktif. Sekarang dia galak. Tentu ini sangat bagus untuk Lala,” ujar Meilina 
Menurut Meilina, setiap harinya Lala makan daging ayam tanpa tulang atau daging sebanyak 700 hingga 800 gram. “Tidak lupa, ia juga selalu diberi minuman susu,” ujarnya.
Kini Lala sudah mulai terbiasa dengan lingkungan sekitar dan sudah ditempatkan di kandang yang lebih besar dan terbuka guna untuk melatih mental.

"Walikota Termuda Dunia"

GibelFm, Cantik, muda, cerdas, dan bersemangat. Itulah kesan pertama saat VIVAnews mewawancara khusus Bashaer Othman, Walikota Allar, Palestina, yang masih berusia 16 tahun. Meski hanya sekitar 2 bulan menjabat kursi nomor satu di kota Tepi Barat, Bashaer mampu menciptakan lapangan kerja dan mendatangkan investasi bagi kota.

"Prestasi saya yang berhasil dicapai, mampu mendatangkan tiga investasi, salah satunya adalah investor pabrik bahan bangunan," kata Bashaer dalam perbincangan denganVIVAnews di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan.

Ada tiga prestasi besar yang diraih Bashaer meski hanya dua bulan duduk menjadi Walikota. Presitasi kedua, dia mampu menggalang kekuatan untuk memperkuat lingkungan dan keamanan.

"Ketiga, saya mampu menjadi role model, bahwa seorang pemuda itu memiliki kapasitas memimpin ketika diberikan kesempatan," kata Bashaer. Di sisi lain, Bashaer melihat Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat besar dan punya potensi yang luar biasa.

"Dan saya lebih memilih datang ke Indonesia ketimbang ke Italia. Karena pas saat bersamaan datang dua undangan dari dua negara," kata Bashaer.

Bashaer memilih Indonesia karena negara ini sangat strategis. Pertama, penduduknya mayoritasnya muslim dan selalu membela isu-isu Palestina di kancah internasional.

"Demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan pemuda Indonesia itu, sudah menjadi berita keseharian di kalangan pemuda Palestina. Jadi mereka seperti punya ikatan batin dengan Indonesia," kata dia. 

130 KK Pulau Kayu Aro akan Direlokasi

Gibelfm-Sebanyak 130 kepala keluarga (KK) Desa Pulau Kayu Aro, akan direlokasi akibat tebing sungai yang longsor. Pemerintah Provinsi Jambi merelokasi warga ke daerah Bukit Baling, Kabupaten Muaro Jambi.

Retakan tanah dan longsor cukup besar terjadi di tebing pinggir Sungai Batanghari, di kawasan desa tersebut. 

Tiga titik retakan dan longsor, dengan total panjang garis sungai lebih dari 500 meter telah terjadi. Diperkiraakan, ini menjadi ancaman untuk rumah warga setempat karena potensi retakan bisa meluas.

"Sebanyak 130 KK akan direlokasim Bupati (Muaro Jambi; red) sepakat tanah di Bukit Baling," ujar Hasan Basri Agus, Gubernur Jambi, di lokasi kejadian, Kamis (13/9) siang.(*)

Bantuan Pemerintah Pusat dan Pemprov Jambi telah dipersiapkan, bagi 130 KK Desa Pulau Kayu Aro, yang rumahnya direlokasi. 

Mereka akan menerima bantuan senilai Rp 35 juta, apabila mau direlokasi. Pemerintah Pusat melalui BNPB menyediakan dana Rp 25 juta, dan Pemprov Jambi menyediakan dana Rp 10 juta.

Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, masih terkait relokasi, Pemkab Muaro Jambi juga akan melakukan land clearing lokasi. Pemprov Jambi pun juga menyiapkan sertifikat gratis, serta bantuan-bantuan lainnya.

Pemerintah sendiri saat ini tengah merencanakan pembangunan turap sungai. Usulan tersebut tengah diajukan ke Kementerian Pekerjaan Umumm "Sekarang sedang kajian teknisnya," ujar HBA, Kamis (13/9).

Beberapa hal sebenarnya bisa dilakukan terkait antisipasi retakan dan longsornya tanah. Disebutkan HBA, dengan memutuskan tanjung salah satunya.

Namun hal tersebut memakan waktu yang lama dan biaya yang besar. Dengan diputusnya tanjung, maka akan ada bagian yang menjadi danau. 

Doa Menyembelih Hewan Qurban


Gibelfm-Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam , keluarga dan para sahabatnya, serta umatnya yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.
Setiap orang yang berkurban tentunya berharap ibadahnya tersebut diterima oleh Allah SWT . Selain memperhatikan jenis hewan kurban, umur dan kondisi hewan kurban yang selamat dari cacat, kita juga harus memperhatikan pengaturan penyembelihannya. Di antaranya, memperhatikan bacaan saat menyembelih. Apa dzikir atau doa yang diajarkan oleh syariat saat menyembelih hewan kurban?
Pada singkatnya, untuk orang yang ingin menyembelih hewan qurban disunnahkan baginya saat akan menyembelih untuk membaca:
بسم الله اللهم والله أكبر اللهم هذا منك ولك, هذا عني
Artinya: ( Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku ).
Jika ia menyembelihkan hewan qurban milik orang lain, ia membaca:
بسم الله اللهم والله أكبر اللهم هذا منك ولك, هذا عن فلان
Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku . " Di tambah:
اللهم تقبل من فلان وآل فلان
"Ya Allah, terimalah kurban dari fulan dan keluarga fulan," (dengan menyebut namanya).
Namun yang wajib dari bacaan ini adalah membacaBasmalah (Bismillah). Jika sudah membacanya, maka sah penyembelihan hewan qurban tersebut walau tidak menambah bacaan lainnya. Adapun kalimat-kalimat sesudahnya hanya anjuran, bukan wajib. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT ,
فكلوا مما ذكر اسم الله عليه إن كنتم بآياته مؤمنين
Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. " (QS. Al-An'am: 118)
ولا تأكلوا مما لم يذكر اسم الله عليه وإنه لفسق
Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. " (QS. Al-An'am: 121)
Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Anas bin Malikradhiyallahu 'anhu , ia berkata:
ضحى النبي صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبر ووضع رجله على صفاحهما
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkurban dengan ekor domba jantan yang dominasi warna putih dan bertanduk.Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir dan meletakkan kakinya di atas samping lehernya. "
Imam Muslim meriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha , Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan untuk membawakan satu ekor kibas bertanduk yang hitam kakinya, hitam bagian perutnya, dan hitam di sekitar kedua matanya. Lalu dibawakan kepada beliau untuk beliau sembelih sendiri. Ia berkata kepada 'Aisyah, "Wahai' Aisyah, ambilkan pisau." Kemudian beliau bersabda, "Asahlah pisau itu dengan batu." 'Aisyah pun mengerjakan. Kemudian ia mengambil pisau dan mengambil kibas tersebut, lalu beliau membaringkannya dan menyembelihnya. Kemudian beliau berucap:
بسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد
"Dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad."Kemudian beliau menyembelihnya.
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang maksudnya, yaitu beliau membaringkannya dan menyembelihnya sambil membaca kalimat di atas. (Lihat Syarah Muslim li al-Nawawi dalam keterangan hadits di atas)
Dan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dari Jabir bin Abdillahradhiyallahu 'anhu berkata: " Aku menyaksikan Shalat Idul Adha di musholla bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam .Ketika ia selesai khutbah beliau turun dari mimbar dan dibawakan kepada beliau seekor domba jantan lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam menyembelihnya sambil mengucapkan :
بسم الله والله أكبر هذا عني وعمن لم يضح من أمتي
Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, ini dariku dan dari setiap orang yang tidak berkurban dari umatku. "(Dishahihkan oleh-Al-albani rahimahullah dalam Shahih al-Tirmidzi)
Ada tambahan dalam sebagian riwayat,
اللهم إن هذا منك ولك
Ya Allah, sesungguhnya ini dari-Mu dan untuk-Mu. " (Lihat: Irwa 'al-Ghalil, no. 1138 dan 1152)
Maksud, Allahumma Minka (Ya Allah, sesungguhnya ini dari-Mu): hewan kurban ini adalah rizki pemberian-Mu yang sampai kepadaku dari Engkau. Sedangkan Wa Laka (dan untuk-Mu) adalah ikhlas untuk-Mu. (Lihat: al-Syarah al-Mumti ': 7/492). Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD / voa-islam.com]
  • Sumber: Website AL-Islamu; sual WA JAWAB yang beralamat: www.islamqa.com , dengan judul (terjemahannya: "Apa yang Dibaca Saat Menyembelih Hewan Qurban?".

Pemanfaatan Hewan Qurban


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka hingga akhir zaman.
Dalam pemanfaatan hasil sembelihan qurban, seringkali kali kita saksikan beberapa hal yang dinilai kurang tepat menurut kacamata syari’at. Beberapa pelanggaran dalam ibadah ini sering terjadi, mungkin saja karena belum sampainya ilmu kepada orang yang melakukan ibadah qurban. Dalam tulisan kali ini -dengan taufik dan pertolongan Allah-, kami berusaha menjelaskan bagaimana pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang tepat yang sesuai dengan tuntunan syari’at, juga bagaimanakah penilaian syariat terhadap praktek kaum muslimin saat ini dalam hal jual kulit hasil sembelihan qurban. Semoga Allah memberi kemudahan dan memberi taufik bagi siapa saja yang membaca risalah ini.
Pemanfaatan Hasil Sembelihan Qurban yang Dibolehkan
Allah Ta’ala berfirman,
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al Hajj: 28)
Dalam hadits dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu, ia berkata bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا »
”Barangsiapa di antara kalian berqurban, maka janganlah ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga.” Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan, ”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka beliau menjawab, ”(Adapun sekarang), makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami paceklik sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.”[1]
Jika kita melihat dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan pada shohibul qurban untuk memakan daging qurban, memberi makan pada orang lain dan menyimpan daging qurban yang ada. Namun apakah perintah di sini wajib? Jawabnya, perintah di sini tidak wajib. Alasannya, perintah ini datang setelah adanya larangan. Dan berdasarkan kaedah Ushul Fiqih, ”Perintah setelah adanya larangan adalah kembali ke hukum sebelum dilarang.[2]” Hukum makan dan menyimpan daging qurban sebelum adanya larangan tersebut adalah mubah. Sehingga hukum shohibul qurban memakan daging qurban, memberi makan pada orang lain dan menyimpannya adalah mubah.
Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari mengatakan,
وَقَوْله ” كُلُوا وَأَطْعِمُوا ” تَمَسَّكَ بِهِ مَنْ قَالَ بِوُجُوبِ الْأَكْل مِنْ الْأُضْحِيَّة ، وَلَا حُجَّة فِيهِ لِأَنَّهُ أَمْر بَعْد حَظْر فَيَكُون لِلْإِبَاحَةِ
Sebagian orang yang berpendapat bahwa shohibul qurban wajib memakan sebagian daging qurbannya beralasan dengan perintah Nabi –shallallahu ’alaihi wa sallam- ”makanlah dan berilah makan” dalam hadits di atas. Namun sebenarnya mereka tidak memiliki dalil yang jelas. Karena perintah tersebut datang setelah adanya larangan, maka dihukumi mubah (boleh).
Dalam hadits ini kita juga mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari. Hal itu agar umat Islam pada saat itu menshodaqohkan kelebihan daging qurban yang ada. Namun larangan tersebut kemudian dihapus. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menghapus larangan tersebut dan menyebutkan alasannya. Beliau bersabda,
« كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِى فَوْقَ ثَلاَثٍ لِيَتَّسِعَ ذُو الطَّوْلِ عَلَى مَنْ لاَ طَوْلَ لَهُ فَكُلُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ وَعَائِشَةَ وَنُبَيْشَةَ وَأَبِى سَعِيدٍ وَقَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ وَأَنَسٍ وَأُمِّ سَلَمَةَ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
Dulu aku melarang kalian dari menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari agar orang yang memiliki kecukupan memberi keluasan kepada orang yang tidak memiliki kecukupan. Namun sekarang, makanlah semau kalian, berilah makan, dan simpanlah.[3] Setelah menyebutkan hadits ini, At Tirmidzi mengatakan,
وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَغَيْرِهِمْ.
Hadits ini telah diamalkan oleh para ulama dari sahabat  Nabi dan selain mereka.
Apakah Mesti Ada Pembagian 1/3 – 1/3?
Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah memberikan keterangan, “Kebanyakan ulama menyatakan bahwa orang yang berqurban disunnahkan bersedekah dengan sepertiga hewan qurban, memberi makan dengan sepertiganya dan sepertiganya lagi dimakan oleh dirinya dan keluarga. Namun riwayat-riwayat tersebut sebenarnya adalah riwayat yang lemah. Sehingga yang lebih tepat hal ini dikembalikan pada keputusan orang yang berqurban (shohibul qurban). Seandainya ia ingin sedekahkan seluruh hasil qurbannya, hal itu diperbolehkan. Dalilnya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu,
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ ، وَأَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا ، لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا ] فِى الْمَسَاكِينِ[  ، وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا شَيْئًا
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan dia untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan beliau tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada tukang jagal (sebagai upah).[4][5] Dalam hadits ini terlihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyedekahkan seluruh hasil sembelihan qurbannya kepada orang miskin.
Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) mengatakan,  “Hasil sembelihan qurban dianjurkan dimakan oleh shohibul qurban. Sebagian lainnya diberikan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari itu. Sebagian lagi diberikan kepada kerabat agar lebih mempererat tali silaturahmi. Sebagian lagi diberikan pada tetangga dalam rangka berbuat baik. Juga sebagian lagi diberikan pada saudara muslim lainnya agar semakin memperkuat ukhuwah.”[6]
Dalam fatwa lainnya, Al Lajnah Ad Da-imah menjelaskan bolehnya pembagian hasil sembelihan qurban tadi lebih atau kurang dari 1/3. Mereka menjelaskan, “Adapun daging hasil sembelihan qurban, maka lebih utama sepertiganya dimakan oleh shohibul qurban; sepertiganya lagi dihadiahkan pada kerabat, tetangga, dan sahabat dekat; serta sepertiganya lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Namun jika lebih/ kurang dari sepertiga atau diserahkan pada sebagian orang tanpa lainnya (misalnya hanya diberikan pada orang miskin saja tanpa yang lainnya, pen), maka itu juga tetap diperbolehkan. Dalam masalah ini ada kelonggaran.”[7]
Intinya, pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang dibolehkan adalah:
  1. Dimakan oleh shohibul qurban.
  2. Disedekahkan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka.
  3. Dihadiahkan pada kerabat untuk mengikat tali silaturahmi, pada tetangga dalam rangka berbuat baik dan pada saudara muslim lainnya agar memperkuat ukhuwah.
Bolehkah Memberikah Hasil Sembelihan Qurban pada Orang Kafir?
Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah diajukan pertanyaan: Bolehkah daging qurban hasil sembelihan atau sesuatu yang termasuk sedekah diserahkan pada orang kafir?
Jawaban ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Da-imah: “Orang kafir boleh diberi hewan hasil sembelihan qurban, asalkan ia bukan kafir harbi (yaitu bukan kafir yang diajak perang) …. Dalil hal ini adalah firman Allah Ta’ala,
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8). Alasan lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan pada Asma’ binti Abi Bakr agar menyambung hubungan baik dengan ibunya padahal ibunya adalah seorang musyrik sebagaimana diriwayatkan oleh Al Bukhari[8].”[9]
Kesimpulan: Memberikan hasil hewan qurban kepada orang kafir (asalkan bukan kafir harbi) dibolehkan karena status hewan qurban sama dengan sedekah atau hadiah. Dan kita diperbolehkan memberikan sedekah maupun hadiah kepada siapa saja termasuk orang kafir. Sedangkan pendapat yang melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak berdalil.
Pemanfaatan Hasil Sembelihan Qurban yang Terlarang
Ada dua bentuk pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang terlarang, yaitu [1] Menjual sebagian dari hasil sembelihan qurban dan [2] Memberi upah pada jagal dari hasil sembelihan qurban. Berikut penjelasannya.
Larangan pertama: Menjual sebagian dari hasil sembelihan qurban baik berupa kulit, wol, rambut, daging, tulang dan bagian lainnya.
Dalil terlarangnya hal ini adalah hadits Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلاَ تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْىِ وَالأَضَاحِىِّ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلاَ تَبِيعُوهَا
Janganlah menjual hewan hasil sembelihan hadyu[10] dan sembelian udh-hiyah (qurban).Tetapi makanlah, bershodaqohlah, dan gunakanlah kulitnya untuk bersenang-senang, namun jangan kamu menjualnya.” Hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).[11]
Walaupun hadits di atas dho’if, menjual hasil sembelihan qurban tetap terlarang. Alasannya, qurban disembahkan sebagai bentuk taqorrub pada Allah yaitu mendekatkan diri pada-Nya sehingga tidak boleh diperjualbelikan. Sama halnya dengan zakat. Jika harta zakat kita telah mencapai nishob (ukuran minimal dikeluarkan zakat) dan telah memenuhi haul (masa satu tahun), maka kita harus serahkan kepada orang yang berhak menerima tanpa harus menjual padanya. Jika zakat tidak boleh demikian, maka begitu pula dengan qurban karena sama-sama bentuk taqorrub pada Allah. Alasan lainnya lagi adalah kita tidak diperkenankan memberikan upah kepada jagal dari hasil sembelihan qurban sebagaimana nanti akan kami jelaskan.[12]
Dari sini, tidak tepatlah praktek sebagian kaum muslimin ketika melakukan ibadah yang satu ini dengan menjual hasil qurban termasuk yang sering terjadi adalah menjual kulit. Bahkan untuk menjual kulit terdapat hadits khusus yang melarangnya. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ
Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya.”[13] Maksudnya, ibadah qurbannya tidak ada nilainya.
Larangan menjual hasil sembelihan qurban adalah pendapat para Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Binatang qurban termasuk nusuk (hewan yang disembelih untuk mendekatkan diri pada Allah). Hasil sembelihannya boleh dimakan, boleh diberikan kepada orang lain dan boleh disimpan. Aku tidak menjual sesuatu dari hasil sembelihan qurban (seperti daging atau kulitnya, pen). Barter antara hasil sembelihan qurban dengan barang lainnya termasuk jual beli.”[14]
Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat dibolehkannya menjual hasil sembelihan qurban, namun hasil penjualannya disedekahkan.[15] Akan tetapi, yang lebih selamat dan lebih tepat, hal ini tidak diperbolehkan berdasarkan larangan dalam hadits di atas dan alasan yang telah disampaikan. Wallahu a’lam.
Catatan penting yang perlu diperhatikan: Pembolehan menjual hasil sembelihan qurban oleh Abu Hanifah adalah ditukar dengan barang karena seperti ini masuk kategori pemanfaatan hewan qurban menurut beliau. Jadi beliau tidak memaksudkan jual beli di sini adalah menukar dengan uang. Karena menukar dengan uang secara jelas merupakan penjualan yang nyata. Inilah keterangan dari Syaikh Abdullah Ali Bassam dalam Tawdhihul Ahkam[16] dan Ash Shon’ani dalam Subulus Salam[17]. Sehingga tidak tepat menjual kulit atau bagian lainnya, lalu mendapatkan uang sebagaimana yang dipraktekan sebagian panitia qurban saat ini. Mereka sengaja menjual kulit agar dapat menutupi biaya operasional atau untuk makan-makan panitia.
Mengenai penjualan hasil sembelihan qurban dapat kami rinci:
  1. Terlarang menjual daging qurban (udh-hiyah atau pun hadyu) berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama.[18]
  2. Tentang menjual kulit qurban, para ulama berbeda pendapat:
Pertama: Tetap terlarang. Ini pendapat mayoritas ulama berdasarkan hadits di atas. Inilah pendapat yang lebih kuat karena berpegang dengan zhahir hadits (tekstual hadits) yang melarang menjual kulit sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al Hakim. Berpegang pada pendapat ini lebih selamat, yaitu terlarangnya jual beli kulit secara mutlak.
Kedua: Boleh, asalkan ditukar dengan barang (bukan dengan uang). Ini pendapat Abu Hanifah. Pendapat ini terbantah karena menukar juga termasuk jual beli. Pendapat ini juga telah disanggah oleh Imam Asy Syafi’i dalam Al Umm (2/351). Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Aku tidak suka menjual daging atau kulitnya. Barter hasil sembelihan qurban dengan barang lain juga termasuk jual beli.” [19]
Ketiga: Boleh secara mutlak. Ini pendapat Abu Tsaur sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi[20]. Pendapat ini jelas lemah karena bertentangan dengan zhahir hadits yang melarang menjual kulit.
Sebagai nasehat bagi yang menjalani ibadah qurban: Hendaklah kulit tersebut diserahkan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkan, bisa kepada fakir miskin atau yayasan sosial. Setelah diserahkan kepada mereka, terserah mereka mau manfaatkan untuk apa. Kalau yang menerima kulit tadi mau menjualnya kembali, maka itu dibolehkan. Namun hasilnya tetap dimanfaatkan oleh orang  yang menerima kulit qurban tadi dan bukan dimanfaatkan oleh shohibul qurban atau panitia qurban (wakil shohibul qurban).
Larangan kedua: Memberi upah pada jagal dari hasil sembelihan qurban.
Dalil dari hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh ‘Ali bin Abi Tholib,
أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ».
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”.”[21]
Dari hadits ini, An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh memberi tukang jagal sebagian hasil sembelihan qurban sebagai upah baginya. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, juga menjadi pendapat Atho’, An Nakho’i, Imam Malik, Imam Ahmad dan Ishaq.”[22]
Namun sebagian ulama ada yang membolehkan memberikan upah kepada tukang jagal dengan kulit semacam Al Hasan Al Bashri. Beliau mengatakan, “Boleh memberi jagal upah dengan kulit.”  An Nawawi lantas menyanggah pernyataan tersebut, “Perkataan beliau ini telah membuang sunnah.”[23]
Sehingga yang tepat, upah jagal bukan diambil dari hasil sembelihan qurban. Namun shohibul qurban hendaknya menyediakan upah khusus dari kantongnya sendiri untuk tukang jagal tersebut.
Demikian pembahasan kami seputar pemanfaatan hasil sembelihan qurban yang terlarang dan yang dibolehkan. Semoga Allah memudahkan kita beramal sholih dan menjauhkan dari apa yang Dia larang. Semoga Allah memberikan kita petunjuk, sikap takwa, keselamatan dan kecukupan.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan siapa saja yang mengikuti petunjuk mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Fadhillah Bertasbih


Allah SWT mengawali tujuh suratnya dalam al-Qur'an dengan tasbih. Betapa banyak ayat tasbih yang Dia turunkan dalam kitabnya agar dipergunakan oleh manusia yang suka bertasbih memanjatkan pujian kepada.
Allah SWT berfirman:
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu semua tidak mengerti tasbih mereka.Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. "(QS al-Isra ': 44)
"... Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang." (QS Thaha: 130)
Rasulullah saw bersabda:
"Ada dua kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat timbangannya, dan sangat disenangi oleh Allah, yaitu: Subhaanallah wa bihamdidhi subhaanallahil 'adzhiim "(HR Ahmad, Al Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah RA)
"Ucapan yang paling Allah sukai ada empat, yaitu:
Mahasuci Allah: سبحان الله
Segala puji bagi Allah:    والحمد لله
Tidak ada Tuhan selain Allah:    ولا إله إلا الله
Allah Mahabesar          والله أكبر:
Engkau bisa memulai dari yang mana saja. "(HR Ahmad dan Muslim dari Samrah bin Jundab ra)
"Barangsiapa bertasbih kepada Allah setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh tiga kali, sehingga berjumlah Sembilan puluh Sembilan, dan menggenapkannya menjadi seratus dengan : laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul Mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qodiir , maka semua kesalahannya akan diampuni oleh Allah meskipun sebanyak buih di lautan. "(HR Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah RA)
Mengucapkan:
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر
Adalah lebih aku sukai dari pada terbitnya matahari. "(HR Muslim dari Abu Hurairah RA)
"Tasbih itu setengah timbangan , alhamdulillah , dan laa ilaaha illallah tidak ada penghalang dari Allah hingga ia sampai kepada. "(HR Tirmidzi dari Ibnu 'Umar)
"Tidaklah mati seekor binatang buruan, dan tidak ditebang tanaman kecuali hal itu mengurangi jumlah tasbih." (HR Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah dari Abu Hurairah RA)
"Maukah aku ajarkan kepadamu seperti apa yang diajarkan Nuh kepada anaknya. Kuperintahkan kamu agar bertasbih kepada Allah dan memujiNya karena sesungguhnya ia adalah shalawat dan tasbih semua makhluk, dan dengan semua makhluk dikaruniai rezeki. "(HR Ibn Abu Syaibah dari Jabir RA)
"Barangsiapa mengucapkan:
سبحان الله وبحمده
Seratus kali setiap hari, maka semua kesalahannya akan dihapus meskipun sebanyak buih di lautan. "(HR Ahmad, Al Bukhari, Muslim, An-Nasa'I dan Ibn Majah dari Abu Hurairah RA)
Nabi saw bersabda kepada Ummul Mukminin Juwairiyah RA, "Telah kukatakan empat kata sebanyak tiga kali setelah dirimu berdoa, bila kata-kata itu ditimbang dengan apa yang telah kau ucapkan maka dia akan seimbang, yaitu:
سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضاء نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته
(HR Muslim dan Abu Dawud dari Juwairiyah RA)